Tenaga Pendidik dan Tenaga Kependidikan sebagai Pengemudi Pelaksanaan Kurikulum

Tenaga Pendidik dan Tenaga Kependidikan sebagai pengemudi pelaksanaan kurikulum

  1. APA MASALAHNYA
    Layaknya sebuah kendaraan umum yang memiliki supir (pengemudi), penumpang, dan kendaraannya itu sendiri. Saya pikir, implementasi pendidikan bisa diibaratkan seperti itu. Sebuah kendaraan mengapa bisa melaju kencang?, mengapa kendaraan ada yang nyaman dan tidak nyaman?, mengapa bisa terjadi kecelakaan lalu lintas?, mengapa ada kendaraan yang tidak mengantarkan penumpangnya sampai tujuan?, dan lain lain. Sekarang coba kita hubungkan dengan dunia pendidikan dalam hal ini adalah implementasinya yaitu berupa pelaksanaan kurikulum. Mengapa ketercapaian tujuan kurikulum itu memerlukan waktu yang lama?, mengapa peserta didik merasakan tidak nyaman ketika proses pembelajaran?, mengapa bisa terjadi ketidaksesuaian antara kemampuan peserta didik dengan kebutuhan saat ini (misalnya dunia kerja) ?, mengapa peserta didik tidak diantarkan sampai tujuan akhirnya ?
  2. MENGAPA BISA TERJADI SEPERTI ITU ?
    Pengendali kendaraan adalah supir, tanpa ada supir penumpang tidak akan sampai ke tempat tujuannya. Dalam pendidikan, peserta didik tidak dapat mencapai cita-citanya tanpa ada arahan dari tenaga pendidik dan tenaga kependidikan.
    Tenaga Pendidik dan Tenaga Kependidikan merupakan dua istilah yang berbeda dan memiliki tugas, peran, serta tanggung jawab masing-masing. Tenaga Pendidik adalah tenaga professional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan, serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, tertutama bagi pendidik pada perguruan tinggi (UU No 20 thn 2003 pasal 39 ayat 2). Sedangkan, Tenaga Kependidikan bertugas melaksanakan administrasi, pengelola, pengembangan, pengawasan, dan pelayanan teknis untuk menunjang proses pendidikan pada satuan pendidikan (UU No 20 thn 2003 pasal 39 ayat 1).
    Kemampuan tenaga pendidik dan tenaga kependidikan untuk mengelola proses pendidikan merupakan modal utama yang diperlukan untuk mengendalikan proses pendidikan (lebih spesifiknya adalah pembelajaran). Kecakapan, mentalitas, keingintahuan yang kuat, haus informasi merupakan beberapa faktor yang krusial dalam proses pembelajaran yang harus dimiliki oleh tenaga pendidik dan kependidikan. Dalam hal ini, yang menjadi sorotan adalah tenaga pendidik dan tenaga kependidikan.

    • Mengapa memerlukan waktu yang lama untuk mencapai tujuan kurikulum?
      Karena penguasaan materi, kemampuan menyampaikan materi, kemampuan mengarahkan peserta didik, dan kemampuan memberikan dorongan kepada peserta didik yang kurang dimiliki oleh tenaga pendidik dan kependidikan.
    • Mengapa peserta didik merasa tidak nyaman selama proses pembelajaran?
      Karena kurangnya kemampuan pendidik untuk mempengaruhi peserta didik agar ikut terlibat dalam proses pembelajaran.
    • Mengapa terjadi ketidaksesuaian antara kemampuan peserta didik dengan kebutuhan kerja?
      Karena kurang cepatnya pergerakan pencarian informasi terkait kebutuhan terbaru oleh pendidik.
    • Mengapa peserta didik tidak diantarkan sampai tujuan akhirnya?
      Banyak hal yang mempengaruhi ketidaktercapaiannya tujuan akhir dari peserta didik, karena mungkin ada bagian komponen pembelajaran yang mengalami kerusakan, sudah kadaluarsanya  (tidak sesuai dengan zaman) materi bahan ajar, dan keterbatasan penguasaan materi oleh pendidik.
  3. BAGAIMANA SOLUSINYA ?
    Kita ibaratkan kembali sebagai kendaraan umum. Agar sebuah kendaraan dapat berjalan dengan baik maka diperlukan pengecekkan, perbaikan (jika ada yang rusak), dan perawatan yang rutin. Jika terjadi kerusakan di salah satu bagian kendaraan tersebut, maka akan berdampak ketidaknyamanan selama perjalanan, bahkan mungkin terjadi kecelakaan. Sama halnya dengan proses pembelajaran. Jika ada salah satu bagian dari pembelajaran yang rusak, maka akan terjadi ketidaknyamanan, bahkan kecelakaan pembelajaran.
    Perlu dipahami tugas, peran serta tanggung jawab tenaga pendidik dan tenaga kependidikan. Beberapa solusi yang dapat dijadikan pertimbangan:

    • Mendorong guru untuk terbiasa proaktif, melalui pelatihan motivasional, peningkatan kreativitas, pemberian target-target tertentu, dan pemanfaatan teknologi informasi
    • Selain guru tentunya banyak hal yang dapat mendorong peserta didik agar merasa nyaman selama proses pembelajaran, yaitu:
      • Kesesuaian materi dengan kebutuhan peserta didik
      • Media penyampaian materi yang menarik
      • Lingkungan yang mendukung ketercapaian tujuan dari materi tersebut.
    • Tenaga pendidik dan kependidikan sangat dianjurkan untuk berkonsultasi kapada para ahli pendidikan yang sesuai dengan bidangnya.
    • Up grading, job training, dan sertifikasi (jika memang masih berlaku) merupakan beberapa alternatif untuk meningkatkan kualitas pendidik dalam rangka mengantarkan peserta didik mencapai tujuannya.

Jadi, saya rasa pendidik (guru) merupakan pemimpin ketika mengimplementasikan kurikulum. Guru seharusnya merupakan orang yang ahli untuk mengelola dan mengendalikan proses pembelajaran, karena gurulah yang memberikan arahan bagaimanakah tujuan peserta didik bisa tercapai. Perlu ditekankan bahwa guru itu “membangun karakter manusia dan memanusiakan manusia layaknya manusia”.

SUMBER RUJUKAN:

  • Naskah Akademik Kajian Kebijakan Kurikulum SMK (Pusat Kurikulum Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen Pendidikan Nasional 2007)
  • Undang-Undang No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional

Leave and Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s